Pemkab Murung Raya
“Kekayaan Alam Disedot, Sumbangan Cuma Rp 500 Ribu?” – Bupati Heriyus Sentil Perusahaan Tak Seimbang
Dalam wawancara khusus usai membuka Festival Tandak Intan Kaharingan ke-X tingkat Kabupaten Murung Raya yang digelar di Gedung Pertemuan Umum (GPU) Heriyus Midel Yoseph, Bupati Heriyus Midel Yoseph menyampaikan kritik tajam kepada sejumlah perusahaan yang dinilai minim kontribusi terhadap kegiatan resmi pemerintah daerah, khususnya di bidang keagamaan dan kebudayaan.(21/07/2025)
“Kalau ini acara ulang tahun pribadi, RT, panjat pinang, bolehlah nyumbang Rp 500 ribu. Tapi ini acara besar daerah. Masa pemerintah daerah yang minta, disumbang segitu? Ini tidak pantas,” tegas Bupati Heriyus dalam wawancaranya.
Ia menilai, ketimpangan antara hasil alam yang dikelola perusahaan dan kontribusi mereka terhadap masyarakat Murung Raya harus menjadi perhatian serius.
“Kekayaan alam kita diambil, tapi bentuk kepeduliannya sangat kecil. Saya rasa tidak sebanding,” tambahnya.
Meski demikian, Bupati mengajak masyarakat agar tidak terpancing emosi.
“Kita tetap harus menjaga komunikasi. Jangan sampai emosi. Ingat, perusahaan juga tempat kita bekerja. Dengan hadirnya investor, kita juga bisa lebih maju,” ujarnya.
Bupati Heriyus juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Murung Raya bersikap adil dan netral dalam pelayanan umat beragama, tanpa membedakan suku dan kepercayaan.
“Kita tidak membeda-bedakan. Muslim, non-Muslim, Hindu Kaharingan – semua kita liani. Kalau ada rumah ibadah atau balai basarah yang rusak atau belum ada, silakan dicatat dan diusulkan. Pemerintah siap bantu,” jelasnya.
Ia juga meluruskan pemahaman masyarakat soal batas antara adat dan budaya.
“Judi saat orang meninggal, itu bukan adat. Itu budaya. Adat itu ada aturan, dilindungi. Budaya itu kebiasaan. Ini harus kita pahami bersama agar tidak terjadi kekeliruan,” tegas Bupati.
Festival Tandak Intan Kaharingan ke-X ini menjadi panggung pelestarian nilai-nilai keagamaan, adat, dan budaya Hindu Kaharingan yang menjadi salah satu kekayaan identitas masyarakat Dayak di Murung Raya.
(Sem Firdaus)
Posting Komentar