PERKIM Murung Raya Prioritaskan Sanitasi dalam Program Rumah Layak Huni dan Rencana Rumah Singgah Banjir
Menurut Ary, setiap rumah baru minimal berukuran 4x6 meter, namun fasilitas sanitasi seperti WC atau kloset menjadi prioritas mutlak. “Kalau tidak ada WC, harus dibangunkan WC. Minimal klosetnya harus tersedia. Rumah sehat tidak bisa lepas dari sanitasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat melalui swadaya tetap diharapkan, terutama ketika anggaran pemerintah terbatas. Namun, Perkim tetap berkomitmen memastikan seluruh pembangunan rumah dilakukan secara layak dan bermartabat.
Ary juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi, terutama di kawasan bantaran sungai yang masih mengandalkan sungai sebagai tempat buang air. “Kalau masih sehat mungkin bisa, tapi kalau sakit bagaimana? Sanitasi itu jadi kebutuhan utama,” katanya.
Sebagian besar program RTLH di Murung Raya bersumber dari aspirasi anggota DPRD melalui Pokok Pikiran (Pokir), namun seleksi teknis tetap dilakukan oleh Perkim. “Kami tetap yang menentukan kelayakan secara teknis,” tambahnya.
Data RTLH terus diperbarui setiap minggu, dan Perkim telah meminta seluruh camat, lurah, dan kepala desa untuk aktif melaporkan kondisi rumah-rumah tidak layak huni di wilayahnya. “Kami juga minta data rumah yang sudah pernah dibantu melalui APBD maupun APBN,” jelas Ary.
Tak hanya fokus pada RTLH, Perkim juga tengah menyusun rencana pembangunan rumah singgah sementara bagi warga terdampak banjir musiman. Mengingat Murung Raya rawan banjir, keberadaan rumah singgah menjadi penting. “Rumah permanen memang tidak rusak, tapi warga tetap butuh tempat tinggal sementara,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Ary berharap masyarakat dan aparat desa dapat aktif mengupdate data rumah warga, terutama terkait program nasional pembangunan 3 juta rumah yang tengah digalakkan pemerintah pusat. “Kami terus update data mingguan. Semoga semua pihak aktif berperan,” pungkasnya.(Kln)
Posting Komentar